Apresiasi merupakan salah satu kebutuhan manusia, menurut piramida kebutuhannya Abraham Maslow. Pengakuan orang lain atas diri seseorang, dan karya serta pikiran seseorang tersebut akan sangat mempengaruhi perkembangan mental orang tersebut.
Karya sastra sebagai suatu bentuk karya seni memiliki sifat indah dan berguna. Sifat ini membuat pembaca senang untuk menikmatinya. Demikian halnya anak-anak tentu juga senang menikmati karya sastra anak-anak.
Kondisi tersebut di atas dapat dimanfaatkan bagi pengajaran. Karena pada umumnya anak-anak senang membaca karya sastra, maka apabila karya sastra dijadikan bahan ajar mata pelajaran lain, misalnya ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, dan sebagainya. Di samping menyebabkan anak merasa senang, juga nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra, yaitu nilai keindahan dan moral akan meresap dan berkembang dalam diri anak secara alami.
Apresiasi Sastra AnakDi sekolah dasar, pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa mengapresiasikan karya sastra. Menurut Huck (1987: 630-623) bahwa pembelajaran sastra di SD harus memberi pengalaman pada siswa yang akan berkontribusi pada 4 tujuan, yakni:
1. Pencarian kesenangan pada buku.
2. Menginterprestasikan bacaan sastra.
3. Mengembangkan kesadaran bersastra.
4. Mengembangkan apresiasi.
Pembelajaran sastra di SD adalah pembelajaran sastra anak. Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak. Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan berdasarkan pada fakta. Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak. Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Sastra anak bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan.. Jenis sastra anak meliputi prosa, puisi, dan drama. Jenis prosa dan puisi dalam sastra anak sangat menonjol. Berdasarkan kehadiran tokoh utamanya, sastra anak dapat dibedakan atas tiga hal, yaitu:
(1) sastra anak yang mengetengahkan tokoh utama benda mati,
(2) sastra anak yang mengetengahkan tokoh utamanya makhluk hidup selain manusia,
(3) sastra anak yang menghadirkan tokoh utama yang berasal dari manusia itu sendiri.
Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, Pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya.
Apresiasi sastra anak,yaitu:
(a) kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya;
(b) penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu.
Sehubungan dengan materi pembelajaran sastra anak ini, pengertian apresiasi yang kita maksudkan yaitu (a) kesadaran kita terhadap nilai-nilai seni dan budaya (sastra anak), dan (b) penilaian atau penghargaan kita terhadap sesuatu (sastra anak).
Ada tiga batasan apresiasi sastra anak, yaitu
(a) Apresiasi sastra anak adalah penghargaan (terhadap karya sastra anak) yang didasarkan pada pemahaman;
(b) Apresiasi sastra anak adalah penghargaan atas karya sastra anak sebagai hasil pengenalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penikmatan yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra anak; dan
(c) Apresiasi sastra anak adalah kegiatan menggauli cipta sastra anak dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra anak.
Dalam melaksanakan apresiasi sastra anak itu kita dapat melakukan beberapa kegiatan, antara lain:
(a) kegiatan apresiasi langsung, yaitu membaca sastra anak, mendengar sastra anak ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan menonton pertunjukan sastra anak dipentaskan;
(b) kegiatan apresiasi tidak langsung, yaitu mempelajari teiri sastra, mempelajari kritik dan esai sastra, dan mempelajari sejarah sastra;
(c) pendokumentasian sastra anak, dan
(d) melatih kegiatan kreatif mencipta sastra atau rekreatif dengan mengungkapkan kembali karya sastra yang dibaca, didengar atau ditontonnya.
Ada tiga tingkatan atau langkah dalam apresiasi sastra anak, yaitu:
(a) seseorang mengalami pengalaman yang ada dalam cipta sastra anak, ia terlibat secara emosional, intelektual, dan imajinatif;
(b) setelah mengalami hal seperti itu, kemudian daya intelektual seseorang itu bekerja lebih giat menjelajahi medan makna karya sastra yang diapresiasinya; dan
(c) seseorang itu menyadari hubungan sastra dengan dunia di luarnya sehingga pemahaman dan penikmatannya dapat dilakukan lebih luas dan mendalam.
Setidaknya terdapat lima manfaat bagi kehidupan ketika mengapresiasi sastra anak, yaitu:
(a) manfaat estetis,
(b) manfaat pendidikan,
(c) manfaat kepekaan batin atau sosial,
(d) manfaat menambah wawasan, dan
(e) manfaat pengembangan kejiwaan atau kepribadian.
Pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar meliputi tiga tahapan yang harus dilalui seorang guru, yaitu:
(a) persiapan pembelajaran,
(b) pelaksanaan pembelajaran, dan
(c) evaluasi pembelajaran.
Pembelajaran bahasa Indonesia dititikberatkan kepada empat keterampilan berbahasa. Keempat keterampilan itu adalah mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Substansi dari keterampilan itu adalah bahasa dan sastra. Jika siswa berlatih keterampilan berbicara, ia memanfaatkan substansi bahasa (kebahasaan) dan sastra (kesastraan). Begitu juga halnya jika berlatih pada keterampilan lain. Oleh karena substansinya ada dua, yakni bahasa dan sastra, pembicaraan dalam pendalaman materi ini juga dibagi dua. Khusus untuk bahan ajar pelatihan ini membahas substansi materi sastra Indonesia. Pemilahan bahasan antara substansi bahasa dengan sastra bukan dimaksudkan untuk membuat garis pemisah antara keduanya. Akan tetapi, pemilahan ini dimaksudkan supaya bahasan substansinya lebih spesifik. Bahasan substansi bahasa dititikberatkan kepada penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasan substansi sastra selain untuk penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi, juga untuk meningkatkan kemampuan peserta didik mengapresiasi karya sastra.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemapuan sebagai berikut.
(1) Berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis;
(2) Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara;
(3) Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan;
(4) Menggunakan bahasa Indonesia unutk meningkatkan keampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial;
(5) Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa;
(6) Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya.
Pentingnya Mengapresiasi Sastra
Menghargai sastra berarti memberikan harga kepada sastra. Dengan memberikan harga kepada sastra itu, kita berusaha menjadikan sastra itu bermakna bagi kehidupan. Hal ini berarti bahwa kita yakin dan percaya bahwa sastra itu berguna. Tanpa kepercayaan dan keyakinan itu tidak mungkin terwujud sikap apresiatif terhadap sastra.
Perwujudan konkrit apresiasi sastra. Yang pertama dan utama adalah kita membaca teks sastra itu. Kalau sastra itu sastra lisan, kita mendongengkannya kembali. Peribahasa, misalnya, adalah salah satu wujud sederhana dan ringkas yang tergolong sastra. Kita mulai saja dengan mengingatkan anak-anak akan peribahasa itu. Berikut ini beberapa contoh.
1. Kecil-kecil anak, sudah besar menjadi onak.
2. Angguk bukan, geleng ya.
3. Memikul di bahu, menjunjung di kepala.
4. Bangau, bangau, minta aku leher; badak, badak minta aku daging.
5. Kalah limau oleh benalu.
6. Besar bungkus tak berisi.
7. Besar kapal besar gelombang.
8. Padi ditanam tumbuh ilalang.
9. Di tempat tak ada lang, kata belalang akulah lang.
Dengan mengenalkan peribahasa, kita memulai langkah awal apresiasi sastra.
Apresiasi sastra juga dapat menawarkan tradisi lama kita, yakni pantun. Pantun itu ada di mana-mana di pelosok tanah air kita dengan nama yang berbeda. Tradisi pantun itu merupakan kekayaan budaya kita yang sampai hari ini polanya pun masih dimanfaatkan oleh penyair muda. Kita mengenalnya sebagai pantun modern. Apa dan bagaimana pantun kita sudah mafhum semua. Kita simak yang berikut ini.
Berakit-rakit ke hulu,
Berenang-renang ke tepian.
Bersakit-sakit dahulu,
Bersenang-senang kemudian
Pantun yang amat terkenal ini merupakan hasil nenek moyang kita ”membaca” alam dan menemukan ajaran yang terkandung di dalamnya yang berupa kearifan hidup. Mungkin kita menemukan ungkapan lain yang sama kandungan isinya, yakni ”sengsara membawa nikmat”. Kita ingat bahwa ungkapan itu merupakan judul novel sebelum kemerdekaan yang pernah diangkat ke layar kaca beberapa tahun silam.
Begitulah apresiasi sastra itu penting. Dengan apresiasi sastra, kita melatih anak-anak menguasai kata dan makna kata, lebih jauh lagi makna karya sastra. Kemampuan menguasai makna sastra itu adalah hasil sebuah proses panjang yang tidak diperoleh dalam waktu sekejap. Hal itu didapatkan melalui kegiatan membaca dan membaca lagi bahkan sampai rambut pun ubanan. Makna sastra itu tidak datang serentak tetapi berangsur-angsur, bertahap-tahap. Dengan bertambah pengalaman hidup kita, bertambah pulalah makna yang dapat kita ungkapkan dari sebuah teks sastra yang bermutu. Dengan bertambahnya ilmu, bertambah pula makna yang dapat kita rumuskan
Bentuk Apresiasi Sastra
PUISI Pengertian Puisi:
Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan bahasa yang terikat. Keterikatan itu meliputi paralelisme, rima, pola bunyi, dan sebagainya. Namun, batasan ini masih sangat abstrak dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.
Menurut Mulyana dalam Semi (1993:93) puisi adalah sintesis dari berbagai peristiwa bahasa yang telah tersaring semurni-murninya dan berbagai proses jiwa yang mencari hakikat pengalamannya, tersusun dengan sistem korespondensi dalam salah satu bentuk.
Jenis Puisi
Dalam khasanah sastra Indonesia modern dikenal berbagai jenis puisi. Ditinjau dari periodisasi kelahiran puisi Indonesia, dikenal dua istilah, yaitu puisi lama dan puisi baru. Sering pula dikatakan adanya puisi tradisional dan puisi modern. Puisi tradisional misalnya: syair, gurindam, pantun, soneta, dan sebagainya. Sedangkan puisi modern lebih dikenal dengan jenis puisi bebas.
Dilihat dari segi gaya penulisannya, puisi dibagi atas dua jenis, yaitu puisi diaphaan (polos) dan puisi prismatis (membias).
Unsur-Unsur yang Membangun Puisi
Menurut Marjorie Boulton (1979), unsur yang membangun puisi dibagi menjadi dua bagian, yaitu bentuk fisik dan bentuk mental. Bentuk fisik terdiri atas nada, larik puisi, irama, sajak, intonasi, enjambemen, pengulangan, dan perangkat kebahasaan lainnya. Sedangkan bentuk mental sebuah puisi terdiri atas tema, urutan logis, pola asosiasi, satuan arti yang dilambangkan, dan pola-pola citra dan emosi.
Apabila berbicara mengenai bunyi dalam sebuah puisi, maka pemahaman istilah yang harus diperdalam adalah pemahaman terhadap rima, irama, dan ragam bunyi.
Diksi
Diksi berarti pemilihan kata. Pemilihan kata dan pemanfaatan kata merupakan aspek yang utama dalam dunia puisi, sehingga penyair dalam membuat puisi akan memilih kata yang cocok untuk mengungkapkan suatu kejadian atau perasaannya. Oleh karena itu, dalam memilih kata, perlu diketahui makna kata yang sebenarnya. Dalam istilah sastra ada kata yang berjiwa, yaitu kata yang dapat membawa suasana tertentu bagi penyair maupun bagi pembacanya.
SIMPULAN
Di sekolah dasar, pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa mengapresiasikan karya sastra. Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak. Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa.
Bentuk apresiasi sastra di SD kelas rendah, terutama sebagai contoh adalah puisi dan diksi. Selain juga diksi diajarkan dalam bentuk percakapan drama sederhana, cerita anak, dan lain-lain yang sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka.
SARAN
Sebelum anak-anak mulai bersekolah, mereka belajar bahasa dengan mengamati orang-orang di sekitar mereka menggunakan bahasa dan dengan mencobanya dalam situasi yang alami. Ketika mereka memasuki sekolah, guru-guru dapat mengembangkan pembelajaran bahasa dengan menciptakan suasana yang membuat anak-anak melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan bahasa tertulis.
Suatu program pembelajaran secara efektif tidak mungkin terlaksana tanpa perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan, dan penggunaan sumber-sumber secara hati-hati. Para pendidik telah mengidentifikasi banyak perencanaan dan paktik-praktik pembelajaran yang baik, yang tepat digunakan oleh guru-guru dalam membantu murid-murid mempelajari bahasa. Guru yang baik mengetahui kebutuhan dan kemampuan murid-muridnya, menentuikan tujuan-tujuan untuk mengembangkan bahasa anak, dan menerapkan rencana-rencana untuk mencapai tujuan.
DAFTAR PUSTAKA
http://bukufanda.blogspot.com/2009/06/apresiasi.html
http://groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra/
http://id.wiktionary.org/wiki/apresiasi
Zuchdi, Darmiyati dan Budiasih. 2001. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Yogyakarta: PAS.